Pengaruh Keuangan Terhadap Tingkat Stres Seseorang

Banyak orang yang berpendapat bahwa uang adalah sumber kebahagiaan? Tapi benarkah kenyataannya seperti itu.

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa orang yang bergaji lebih tinggi dan berpendidikan lebih tinggi dilaporkan sekitar 28 persen lebih stres dan 8.3 persen kurang bahagia dibandingkan orang yang bergaji rendah dan berpendidikan rendah. © Soft Photo /Shutterstock

Ada yang mengatakan uang tunai adalah sumber kebahagiaan. Ada pula penelitian yang menyebutkan bahwa dengan uang, orang bisa membeli kebahagiaan.

Namun tidak selamanya orang sukses bisa bahagia dengan uang yang dimilikinya. Ternyata, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Science & Medicine, orang yang kaya sekaligus berpendidikan tinggi cenderung lebih stres di tempat kerja daripada orang bergaji rendah yang mengenyam pendidikan lebih rendah.

Untuk sampai pada kesimpulan itu, peneliti dari Penn State University memberi kesempatan kepada 122 orang pekerja yang hidup di kota Palm Pilots di Amerika Serikat untuk melakukan beberapa percobaan.

Selama beberapa kali dalam sehari, komputer yang dipakai oleh para pekerja ini menampilkan pesan untuk mengukur seberapa stres mereka dan seberapa bahagia mereka. Dengan cara ini para periset ingin mengetahui secara langsung stres yang dirasakan para pekerja.

Menurut Matthew Zawadzki, peneliti dari University of California-Merced yang melakukan penelitian ini, cara ini disebut lebih efektif daripada menanyakan apakah para pekerja ini stres atau tidak setelah pekerjaan usai.

Zawadzki berkesimpulan bahwa orang yang bergaji lebih tinggi dan berpendidikan lebih tinggi dilaporkan sekitar 28 persen lebih stres dan 8.3 persen kurang bahagia dibandingkan orang yang bergaji rendah dan berpendidikan rendah.

Selain dilaporkan lebih stres dan kurang bahagia dari waktu ke waktu, para pekerja kelas atas yang berpendapatan setidaknya USD100.000 (sekitar Rp1,3 miliar) per tahun dilaporkan tidak mampu memenuhi kewajiban profesional mereka di kantor.

Selain menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang stres di tempat kerja, dalam penelitian ini juga dikumpulkan sampel air liur untuk mengukur tingkat hormon yang berhubungan dengan stres, yaitu hormon kortisol. Di saat stres, tubuh menghasilkan lebih banyak hormon kortisol sebagai bentuk kompensasi.

Kortisol adalah hormon steroid yang umumnya diproduksi oleh kelenjar adrenal. Hormon ini memengaruhi berbagai organ tubuh seperti jantung, sistem saraf pusat, ginjal, dan kehamilan. Selain itu, hormon kortisol juga terlibat pada respon stres, sistem kekebalan tubuh, peradangan, metabolisme karbohidrat, pemecahan protein, mengatur kadar elektrolit darah dan perilaku.

“Orang-orang yang melaporkan tingkat stres yang tinggi mungkin adalah orang yang sebenarnya mempunyai kekuasaan lebih atau bertanggung jawab mengambil keputusan dibandingkan orang-orang lain,” ujar Scott Schieman, seorang profesor sosiologi dari University of Toronto yang tidak terlibat dalam penelitian ini, kepada Bloomberg. Schieman menyebutkan bahwa semakin banyak beban tanggung jawab seseorang, semakin bertambah tingkat stresnya.

Hasil penelitian ini tidak berarti menunjukkan bahwa para pekerja rendahan mempunyai kehidupan yang lebih nyaman. Tentu saja mereka juga bisa merasakan stres, misalnya, akibat semakin sulit membeli kebutuhan sehari-hari dan membayar berbagai kebutuhan bulanan.

“Meskipun stres yang dirasakan oleh para pekerja rendahan itu berakar dari pekerjaan, mereka bisa meninggalkan akar masalah itu ketika mereka bekerja,” ujar Sarah Damaske dari Penn State yang melakukan penelitian ini bersama Joshua Smyth. Damaskemenyebutkan bahwa para pekerja rendahan lebih merasakan stres di rumah, bukan di tempat kerja. Keadaan ini bertolak belakang dengan orang-orang yang bergaji tinggi dan berpendidikan tinggi.

Riset sebelumnya mengungkapkan bahwa orang yang berpendidikan tinggi cenderung melaporkan lebih banyak sumber-sumber stres kecil. orang yang kurang bependidikan melaporkan lebih sedikit sumber-sumber stres besar.

Apakah dengan demikian bisa disimpulkan bahwa orang yang berstatus sosial tinggi cenderung lebih mengeluhkan apa yang mereka rasakan? Damaske mengatakan perlu dilakukan penelitian lanjutan.

0 komentar:

Posting Komentar